PANGANDARAN – Ronggeng Gunung Pangandaran merupakan kearifan lokal bertemakan cinta dan balas dendam. Kini warga Pangandaran masih berjuang mempertahankan kesenian Ronggeng Gunung.

Selain berkurangnya minat masyarakat untuk mengenal Ronggeng, kesenian adiluhung yang satu ini juga memberikan seleksi ketat bagi para pemain. Salah satu syarat paling sulit adalah skill olah vokal yang unik.

Ini karena Ronggeng Gunung merupakan kombinasi antara penari, pemain gamelan, dan sinden. Namun, sebisa mungkin kita harus tetap melestarikan kesenian lokal Pangandaran yang notabene telah ada sejak abad VII.

Ronggeng Gunung Pangandaran Beserta Fakta Unik untuk Dikulik

Ternyata, kesenian Ronggeng telah menjadi bagian dari pantai terbaik di Jawa Barat, yakni Pantai Pangandaran. Ronggeng Gunung memang hiburan yang sukses mengundang banyak peminat.

Ini karena seni tari tradisional memiliki segudang fakta unik. Tertarik mengetahui fakta unik tersebut?

Harus Ucap Kalimat Syahadat

Apakah Anda ingat sosok wali bernama Sunan Bonang? Dari cerita masyarakat setempat, Ronggeng Gunung merupakan metode penyebaran agama Islam yang dipakai olehnya.

Baca Juga:  Mengenal Sejarah Kesenian Lebon Pangandaran dan Keunikannya

Dulu, penonton yang menyaksikan Ronggeng Gunung wajib mengucapkan 2 kalimat syahadat. Artinya, secara tidak langsung orang yang mengucapkannya telah memeluk agama Islam.

Perlu Anda garis bawahi di sini adalah mereka mengucapkannya tanpa ada unsur paksaan. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan jika awal mula kehadiran Ronggeng Gunung sebenarnya sebagai media penyebaran agama Islam.

Sebagai Pengantar Upacara Adat

Ronggeng Gunung Pangandaran dikenal sebagai tarian pengantar upacara adat. Warga menggelar tari Ronggeng pada event sakral seperti pernikahan, khitanan, penerimaan tamu, dan merayakan panen raya.

Tidak sembarangan langsung pentas karena pra acara warga akan melaksanakan upacara sesaji terlebih dahulu. Tujuannya supaya pertunjukan Ronggeng dan acara sesudahnya berjalan lancar. Bisa dibilang bahwa upacara sesaji tersebut merupakan sesembahan untuk menghormati sekaligus memohon izin kepada arwah leluhur dan para roh di area pertunjukan Ronggeng.

Baca Juga:  Sumur Air Tawar di Bibir Pantai Pangandaran Jadi Pusat Perhatian Wisatawan

Karena ada unsur sakral, maka Ronggeng harus mematuhi kaidah tertentu. Dalam bahasa Ronggeng kaidah ini dinamakan pakem. Nah, struktur penyajian tarian meliputi bubuka, kidung, baksa, kemudian dilanjutkan dengan ngainstenan untuk memberi penghormatan.

Sedangkan ngibing sadayana berada di urutan paling akhir. Nah, antusiasme penonton paling kentara ketika Ronggeng sampai di tahap ini. 

Media Hiburan Unik

Seiring berjalannya waktu, seni tradisional Ronggeng kini menjelma sebagai media hiburan merakyat. Sebagai media hiburan, tentu Ronggeng Gunung Asli telah mengalami penyempurnaan dan inovasi. 

Tampilan Ronggeng Gunung biasanya lebih fleksibel karena tidak terikat pakem. Ini menjadi salah satu cara alternatif melestarikan kesenian lokal Pangandaran.

Seniman berharap generasi muda bisa mencintai, menerima, kemudian melestarikan Ronggeng Gunung Pangandaran meski dalam versi gubahan. Kita harus berusaha semaksimal mungkin menjaga dan melestarikan warisan budaya.

Ingatlah bahwa beberapa negara lain mengakui kesenian asli Indonesia. Jangan sampai hal ini terulang kembali.

Baca Juga:  Terhalang Awan Mendung, Hilal di Langit Pangandaran Tak Terlihat

Sarat Cerita Cinta dan Balas Dendam

Bukan hanya percintaan, Ronggeng Gunung juga menceritakan aksi balas dendam kekasih, yakni Dewi Samboja karena Anggalarang dibunuh dengan keji oleh bajak laut. Mereka iri dengan keberuntungan Anggalarang yang berhasil memikat Dewi Samboja atau Dewi Rengganis. Oleh karena itu, para bajak laut dan komplotannya tega menculik kemudian membunuh Anggalarang.

Singkat cerita, Dewi Samba sakit hati sehingga berniat membalas dendam. Salah satunya dengan cara memikat kawanan bajak laut dengan tarian, kemudian membunuh satu persatu di kala mereka lengah.

Bagaimana, Ronggeng Gunung Pangandaran memang merupakan tarian lokal unik dan menarik bukan? Menilik fungsi Ronggeng Gunung sebagai media hiburan, alangkah baiknya Anda berusaha mempelajarinya. Terlebih kali ini tidak ada seleksi ketat untuk menjadi pemainnya. Bukan tidak mungkin kedepannya kesenian ini akan menunjang sektor pariwisata di Pangandaran.

Bagikan: